Memahami safe haven adalah langkah penting bagi investor dan trader yang ingin mengetahui bagaimana pasar bereaksi saat terjadi ketidakpastian. Secara sederhana, aset safe haven adalah instrumen yang cenderung mempertahankan nilai atau mengalami peningkatan permintaan ketika pasar bergejolak dan investor mulai mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.
Ketika kekhawatiran terhadap ekonomi, geopolitik, atau pasar keuangan meningkat, investor sering melakukan flight to safety dengan memindahkan sebagian modal ke aset yang dianggap lebih stabil. Emas, obligasi pemerintah berkualitas tinggi, mata uang tertentu seperti franc Swiss dan yen Jepang, serta saham defensif sering disebut sebagai contoh aset safe haven.
Namun, safe haven artinya bukan berarti aset tersebut bebas dari risiko atau selalu naik saat pasar turun. Setiap aset memiliki karakteristik dan respons yang berbeda terhadap kondisi pasar tertentu. Emas, misalnya, sering dianggap sebagai pelindung terhadap ketidakpastian dan inflasi, sedangkan obligasi pemerintah dapat lebih sensitif terhadap perubahan suku bunga.
Artikel ini membahas apa itu safe haven, karakteristik yang membuat suatu aset dianggap sebagai safe haven, contoh instrumen yang sering digunakan, serta keterbatasannya agar investor dapat memahami perannya secara lebih realistis.
Poin-Poin Penting
- Aset safe haven adalah instrumen yang cenderung lebih stabil saat pasar bergejolak, dengan karakteristik seperti likuiditas tinggi, kepercayaan pasar yang luas, dan korelasi rendah terhadap aset berisiko.
- Emas, obligasi pemerintah, mata uang seperti franc Swiss dan yen Jepang, serta saham defensif sering dianggap sebagai aset safe haven, tetapi masing-masing merespons kondisi pasar dengan cara berbeda.
- Aset safe haven tidak bebas risiko. Emas dan obligasi pemerintah tetap dapat mengalami penurunan harga sehingga perlindungan modal merupakan kecenderungan, bukan jaminan.
Apa Itu Aset Safe Haven?

Aset safe haven adalah instrumen finansial yang cenderung mempertahankan atau bahkan meningkatkan nilainya ketika pasar mengalami tekanan, sedangkan aset berisiko seperti saham dapat mengalami penurunan. Tujuan utama aset ini adalah capital preservation (menjaga nilai modal), bukan mengejar pertumbuhan agresif. Karena itu, aset safe haven dapat terlihat kurang menarik saat pasar sedang naik, tetapi perannya menjadi lebih penting ketika ketidakpastian meningkat.
Aset safe haven dapat berasal dari berbagai kelas aset, termasuk logam mulia, obligasi pemerintah, mata uang tertentu, dan saham defensif. Meskipun karakteristiknya berbeda, aset-aset ini umumnya memiliki beberapa ciri berikut:
- Korelasi rendah atau negatif: Cenderung bergerak berbeda dari aset berisiko, sehingga dapat membantu mengurangi dampak penurunan pasar.
- Likuiditas tinggi: Dapat diperjualbelikan dengan relatif mudah, termasuk saat kondisi pasar bergejolak.
- Pasokan terbatas: Ketersediaannya tidak dapat meningkat secara cepat, sehingga membantu menjaga daya tariknya saat permintaan naik.
- Kepercayaan pasar yang luas: Status safe haven terbentuk karena kepercayaan kolektif investor terhadap kemampuan suatu aset dalam mempertahankan nilai.
Ketika sentimen pasar memburuk, investor biasanya mengurangi eksposur pada aset berisiko seperti growth stocks dan high-yield bonds, lalu mengalihkan sebagian modal ke aset yang dianggap lebih stabil. Perpindahan ini dikenal sebagai flight to safety, sedangkan kondisi pasar yang lebih mengutamakan perlindungan modal dibanding mengejar imbal hasil sering disebut risk-off sentiment.
Perubahan alokasi modal ini dapat terjadi dalam skala besar. World Gold Council melaporkan bahwa kombinasi permintaan safe haven dan diversifikasi membantu mendorong total permintaan emas melewati 5.000 ton pada 2025 untuk pertama kalinya dalam sejarah pencatatan, dengan nilai sekitar US$555 miliar [1].
Penting untuk dipahami bahwa tidak ada aset yang secara resmi ditetapkan sebagai safe haven. Status tersebut muncul dari bagaimana pasar memperlakukan suatu aset sehingga dapat berubah tergantung kondisi ekonomi, suku bunga, sentimen investor, dan jenis krisis yang terjadi.
Alasan Investor Beralih ke Aset Safe Haven
Alasan utama investor memilih aset safe haven adalah untuk menjaga nilai modal (capital preservation) ketika kondisi pasar memburuk. Karena beberapa aset safe haven memiliki korelasi rendah atau negatif terhadap aset berisiko seperti saham, aset ini juga sering digunakan sebagai bagian dari diversifikasi untuk membantu mengurangi fluktuasi portofolio. Informasi ini bersifat umum dan bukan merupakan nasihat keuangan; kondisi serta tujuan setiap individu dapat berbeda.
Permintaan terhadap aset safe haven biasanya meningkat saat muncul ketidakpastian besar, seperti koreksi pasar saham, risiko resesi, konflik geopolitik, atau lonjakan inflasi. Dalam kondisi seperti ini, investor sering mengurangi eksposur terhadap aset berisiko dan mencari instrumen yang dianggap lebih stabil. Perpindahan modal tersebut dapat memperkuat permintaan terhadap aset safe haven, terutama ketika sentimen pasar berubah menjadi lebih defensif.
Namun, aset safe haven bukanlah growth engine yang dirancang untuk menghasilkan pertumbuhan maksimal. Saat ekonomi berkembang dan pasar berada dalam tren positif, aset defensif dapat tertinggal dibandingkan aset yang memiliki potensi pertumbuhan lebih tinggi. Dengan kata lain, manfaat utama aset safe haven adalah membantu mengelola risiko dan potensi drawdown, bukan menggantikan seluruh strategi pertumbuhan investasi.
Contoh Umum Aset Safe Haven

Tidak ada satu aset yang selalu berperan sebagai safe haven dalam setiap kondisi pasar. Beberapa aset lebih sering dianggap defensif karena memiliki karakteristik tertentu, tetapi masing-masing tetap memiliki risiko dan dapat bereaksi berbeda tergantung jenis tekanan ekonomi atau krisis yang terjadi.
| Jenis Aset | Alasan Dianggap Safe Haven | Risiko Utama |
| Emas | Langka, tidak terikat pada satu perekonomian atau perusahaan tertentu dengan sejarah panjang sebagai penyimpan nilai. | Tidak menghasilkan bunga/dividen dan bisa sangat volatil; sempat anjlok tajam pada awal 2026 setelah mencetak rekor tertinggi. |
| Obligasi pemerintah | Didukung oleh kelayakan kredit pemerintah penerbit; diuntungkan oleh flight to quality saat krisis. | Kehilangan nilai ketika suku bunga naik dan tidak semua pemerintah memiliki kelayakan kredit yang sama. |
| Mata uang safe haven | Didukung oleh perekonomian yang stabil, likuiditas tinggi, dan institusi yang solid. | Status safe haven dapat berubah; kebijakan dan intervensi bank sentral memengaruhi nilainya. |
| Saham dan ETF defensif | Permintaan terhadap produknya tetap stabil di sepanjang siklus ekonomi. | Tetap terpapar penurunan pasar saham; label “defensif” bukan jaminan. |
Emas
Emas merupakan logam mulia yang telah lama dikenal sebagai penyimpan nilai (store of value) dan menjadi salah satu aset safe haven yang paling banyak diperhatikan investor. Daya tarik emas berasal dari kelangkaannya, pasokan yang terbatas, serta fakta bahwa nilainya tidak bergantung langsung pada kinerja satu perusahaan atau satu negara tertentu.
Peran emas sebagai aset defensif juga didukung oleh permintaan institusi. Menurut World Gold Council, bank sentral membeli 863,3 ton emas pada 2025. Angka ini memang lebih rendah dibandingkan pembelian di atas 1.000 ton pada 2022, 2023, dan 2024, tetapi masih jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata tahunan periode 2010–2021 sebesar 473 ton. Pembelian tersebut melanjutkan tren net buying bank sentral selama 15 tahun berturut-turut [2].
Emas juga sering dianggap sebagai hedge terhadap inflasi karena nilainya secara historis dapat membantu menjaga daya beli ketika nilai mata uang melemah. Namun, hubungan ini tidak selalu konsisten dalam setiap periode sehingga emas tetap dapat mengalami kenaikan maupun penurunan harga.
Permintaan emas dari konsumen juga berperan besar, terutama di kawasan Asia. India merupakan salah satu konsumen emas terbesar di dunia setelah China, dan World Gold Council memperkirakan sekitar 24.000 hingga 25.000 ton emas tersimpan di rumah tangga India — jumlah yang melebihi cadangan emas bank sentral mana pun di dunia [3]. Permintaan yang kuat dan faktor budaya tersebut turut mendukung persepsi emas sebagai aset safe haven.
Perak terkadang juga dikategorikan sebagai logam mulia defensif, tetapi karakteristiknya berbeda dari emas. Harga perak lebih dipengaruhi oleh permintaan industri dan cenderung memiliki volatilitas yang lebih tinggi sehingga sifat safe haven-nya tidak selalu sekuat emas.
Ciri utama emas sebagai aset safe haven:
- Penyimpan nilai yang telah digunakan secara luas selama berabad-abad.
- Memiliki pasokan terbatas dan tidak bergantung pada satu perusahaan atau ekonomi tertentu.
- Didukung oleh permintaan dari bank sentral, investor, dan konsumen.
- Tidak menghasilkan bunga atau dividen serta tetap dapat mengalami fluktuasi harga.
Obligasi Pemerintah
Obligasi pemerintah adalah instrumen utang yang diterbitkan oleh pemerintah, di mana investor meminjamkan dana kepada pemerintah dan menerima pembayaran bunga sesuai ketentuan yang berlaku. Obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah dengan kondisi keuangan dan kredibilitas tinggi termasuk salah satu aset safe haven yang paling banyak digunakan.
Saat pasar mengalami tekanan, investor sering berpindah ke obligasi pemerintah dalam fenomena yang dikenal sebagai flight to quality. Perpindahan ini terjadi karena investor mencari aset dengan risiko gagal bayar yang relatif lebih rendah dibandingkan instrumen berisiko lainnya.
Namun, obligasi pemerintah tidak selalu bergerak naik saat terjadi ketidakpastian. Harga obligasi memiliki hubungan terbalik dengan suku bunga. Itulah mengapa kenaikan suku bunga yang agresif dari bank sentral dapat menyebabkan harga obligasi yang sudah beredar mengalami penurunan. Selain itu, tingkat keamanan obligasi juga bergantung pada kondisi keuangan dan kredibilitas pemerintah penerbit.
Ciri utama obligasi pemerintah sebagai aset safe haven:
- Memberikan pembayaran bunga yang relatif dapat diprediksi selama periode tertentu.
- Sering mendapat permintaan saat investor mengurangi risiko (risk-off sentiment).
- Nilainya sensitif terhadap perubahan suku bunga.
- Tingkat keamanannya bergantung pada kualitas kredit pemerintah penerbit.
Mata Uang Safe Haven
Mata uang safe haven adalah mata uang yang cenderung menarik permintaan ketika ketidakpastian global meningkat. Biasanya, mata uang tersebut didukung oleh perekonomian yang stabil, pasar keuangan yang likuid, serta institusi ekonomi yang dipercaya oleh investor.
Tiga mata uang yang paling sering dikaitkan dengan karakteristik safe haven adalah franc Swiss (CHF), yen Jepang (JPY), dan dolar AS (USD) meskipun masing-masing memiliki faktor pendukung yang berbeda.
Franc Swiss sering dianggap defensif karena didukung oleh stabilitas politik Swiss, sistem keuangan yang kuat, dan kebijakan moneter Swiss National Bank yang berfokus pada stabilitas harga serta mata uang.
Yen Jepang mendapatkan permintaan safe haven karena ukuran ekonomi Jepang yang besar, pasar keuangan yang dalam, dan posisi Jepang sebagai salah satu negara kreditur terbesar dunia. Namun, pergerakan yen tetap sangat dipengaruhi oleh kebijakan suku bunga Bank of Japan.
Dolar AS memiliki peran khusus karena statusnya sebagai mata uang cadangan global dan dominasi dalam perdagangan internasional. Namun, daya tarik safe haven dolar dapat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dan kebijakan yang berasal dari Amerika Serikat sendiri.
Ciri utama mata uang safe haven:
- Didukung oleh ekonomi yang stabil dan pasar keuangan yang likuid.
- Cenderung mendapat permintaan saat sentimen pasar berubah menjadi risk-off.
- Pergerakannya dipengaruhi oleh kebijakan bank sentral.
- Status safe haven dapat berubah tergantung sumber dan jenis krisis yang terjadi.
Saham dan ETF Defensif
Saham defensif adalah saham perusahaan yang cenderung tetap memiliki permintaan meskipun kondisi ekonomi melemah. Berbeda dengan perusahaan yang sangat bergantung pada siklus ekonomi, perusahaan defensif biasanya menjual produk atau layanan yang tetap dibutuhkan masyarakat, seperti kebutuhan sehari-hari, layanan kesehatan, dan utilitas.
Karena permintaannya relatif stabil (inelastic), saham defensif sering mengalami pergerakan yang lebih moderat dibandingkan pasar secara keseluruhan saat terjadi tekanan ekonomi. Sementara itu, ETF defensif menggabungkan sejumlah saham dari sektor-sektor tersebut dalam satu instrumen sehingga investor dapat memperoleh eksposur ke beberapa perusahaan sekaligus.
Sektor yang sering dikategorikan defensif meliputi consumer staples, kesehatan, utilitas, dan layanan komunikasi. Beberapa ETF juga dirancang untuk memberikan eksposur terhadap saham dengan volatilitas rendah atau sektor defensif tertentu. Contoh-contoh ini hanya bersifat ilustrasi dan bukan merupakan rekomendasi investasi.
Meski sering dianggap lebih stabil, saham dan ETF defensif tetap memiliki risiko pasar. Perusahaan dengan valuasi yang sudah tinggi tetap dapat mengalami penurunan harga saat terjadi aksi jual besar-besaran atau perubahan sentimen investor.
Ciri utama saham dan ETF defensif:
- Didukung oleh perusahaan dengan permintaan produk atau layanan yang relatif stabil.
- Berpotensi memberikan pendapatan dan dividen yang lebih konsisten dibandingkan sektor yang lebih siklikal.
- ETF memungkinkan diversifikasi melalui beberapa saham defensif dalam satu instrumen.
- Tetap memiliki risiko pasar saham dan dapat mengalami penurunan saat kondisi pasar memburuk.
Keterbatasan Aset Safe Haven
Status safe haven menggambarkan kecenderungan suatu aset untuk lebih bertahan saat pasar mengalami tekanan, bukan jaminan bahwa nilainya akan selalu naik. Bahkan aset yang paling sering dianggap sebagai pelindung nilai tetap dapat mengalami penurunan, terutama ketika jenis tekanan pasar yang terjadi tidak sesuai dengan karakteristik aset tersebut.
Emas menjadi salah satu contoh yang menunjukkan batasan tersebut. Setelah beberapa kali mencetak rekor tertinggi sepanjang 2025 hingga Januari 2026, harga emas mengalami koreksi pada paruh pertama 2026, turun dari sekitar US$5.600 per troy ons pada Januari menjadi sekitar US$3.960 pada akhir Juni 2026 [4]. Investor yang membeli emas di dekat puncak harga dengan ekspektasi perlindungan nilai yang stabil tetap dapat mengalami kerugian ketika harga berbalik turun.
Jenis krisis yang terjadi juga sangat menentukan bagaimana aset safe haven bereaksi. Dalam krisis likuiditas yang ekstrem, investor dapat menjual berbagai aset — termasuk aset defensif — untuk memperoleh uang tunai. Kondisi ini dapat menyebabkan emas ikut turun pada fase awal kepanikan, seperti yang terlihat saat aksi jual pasar pada Maret 2020.
Tekanan inflasi juga dapat memberikan tantangan tersendiri. Kenaikan real yield dapat menekan harga emas, sedangkan kenaikan suku bunga dapat menyebabkan harga obligasi pemerintah turun. Akibatnya, dua aset yang sering dianggap defensif dapat melemah secara bersamaan dalam kondisi tertentu.
Hal ini menunjukkan bahwa aset safe haven tidak memberikan perlindungan terhadap semua jenis risiko. Korelasi yang biasanya rendah terhadap aset berisiko juga dapat berubah saat terjadi krisis besar. Karena itu, memahami jenis guncangan yang sedang terjadi dan bagaimana setiap aset merespons kondisi tersebut merupakan bagian penting dalam menggunakan aset safe haven secara realistis.
Cara Trading Aset Safe Haven
Trader ritel biasanya mendapatkan eksposur terhadap pasar yang dianggap safe haven melalui Contracts for Difference (CFD), bukan dengan memiliki aset dasarnya secara langsung. CFD memungkinkan trader berspekulasi terhadap perubahan harga suatu aset, baik naik maupun turun, berdasarkan selisih harga saat posisi dibuka dan ditutup.
Melalui CFD, trader dapat memperoleh eksposur terhadap berbagai aset seperti emas, mata uang, obligasi, indeks, dan ETF tanpa perlu membeli aset fisiknya secara langsung. Namun, CFD merupakan produk berleverage yang memiliki risiko tinggi. Leverage dapat memperbesar potensi keuntungan sekaligus kerugian dan kerugian dapat melebihi margin awal. Karena itu, position sizing dan manajemen risiko menjadi bagian penting dalam setiap keputusan trading.
Vantage menyediakan CFD pada berbagai instrumen yang sering dikaitkan dengan permintaan safe haven, termasuk emas (XAUUSD), pasangan mata uang utama, instrumen obligasi pemerintah, serta CFD indeks dan ETF. Trader tetap perlu memahami karakteristik setiap pasar sebelum membuka posisi, karena aset defensif sekalipun dapat mengalami volatilitas.
Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan trader antara lain:
- Pahami aset yang diperdagangkan: Tidak ada aset safe haven yang selalu bergerak sesuai ekspektasi. Memahami faktor yang memengaruhi harga suatu aset dapat membantu membuat keputusan yang lebih terinformasi.
- Perhatikan entry point: Permintaan safe haven sering meningkat ketika ketidakpastian pasar sedang tinggi, sehingga harga aset tertentu mungkin sudah mengalami kenaikan sebelum trader masuk.
- Kelola risiko secara disiplin: Stop-loss dapat membantu membatasi potensi kerugian, tetapi tidak menjamin eksekusi tepat pada level yang ditentukan saat pasar bergerak cepat.
- Pertahankan perspektif jangka panjang: Pergerakan harga jangka pendek dan koreksi normal dapat terjadi bahkan pada aset yang dianggap defensif.
Aset Safe Haven: Perlindungan, Bukan Jaminan
Aset safe haven lebih tepat dipahami sebagai alat untuk membantu mengelola ketidakpastian pasar, bukan sebagai perlindungan yang selalu berhasil dalam setiap kondisi. Emas, obligasi pemerintah, mata uang defensif, dan saham defensif masing-masing memiliki karakteristik serta risiko yang berbeda sehingga dapat merespons jenis tekanan pasar tertentu dengan cara yang berbeda pula.
Nilai utama aset safe haven bukan terletak pada kemampuannya menghilangkan risiko, tetapi pada potensinya untuk membantu mengurangi dampak volatilitas dalam kondisi tertentu. Namun, risiko yang lebih rendah biasanya juga disertai dengan potensi keuntungan yang lebih terbatas dibandingkan aset yang lebih agresif.
Pendekatan yang lebih realistis adalah melihat aset safe haven sebagai bagian dari strategi pengelolaan risiko, bukan sebagai jaminan perlindungan modal. Pilihan aset yang sesuai akan bergantung pada kondisi, tujuan, dan toleransi risiko masing-masing individu. Artikel ini hanya menyediakan informasi umum dan bukan merupakan rekomendasi investasi atau nasihat keuangan pribadi; pertimbangkan untuk mencari nasihat independen apabila diperlukan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Apa Itu Aset Safe Haven?
Aset safe haven adalah instrumen finansial yang cenderung mempertahankan atau bahkan meningkatkan nilainya ketika pasar mengalami tekanan. Tujuan utamanya adalah membantu menjaga nilai modal (capital preservation), bukan mengejar pertumbuhan maksimal. Aset ini umumnya memiliki karakteristik seperti korelasi rendah terhadap aset berisiko, likuiditas tinggi, pasokan terbatas, dan tingkat kepercayaan pasar yang luas. Contoh aset safe haven yang sering dibahas meliputi emas, obligasi pemerintah berkualitas tinggi, mata uang tertentu, dan saham defensif. Namun, tidak ada aset yang sepenuhnya bebas risiko.
Apakah Emas Termasuk Aset Safe Haven?
Emas secara luas dianggap sebagai salah satu aset safe haven klasik karena kelangkaannya, sejarah panjang sebagai penyimpan nilai, serta sifatnya yang tidak bergantung pada kinerja satu perusahaan atau negara tertentu. Permintaan dari bank sentral, investor, dan konsumen turut memperkuat peran emas sebagai aset defensif. Namun, emas tetap dapat mengalami volatilitas dan penurunan harga, termasuk saat kondisi pasar tertentu membuat investor menjual aset untuk mendapatkan likuiditas.
Apakah Perak Termasuk Aset Safe Haven?
Perak terkadang dikategorikan sebagai aset safe haven karena sama-sama termasuk logam mulia seperti emas. Namun, perak memiliki karakteristik yang berbeda karena sebagian besar permintaannya juga berasal dari sektor industri. Faktor ini membuat harga perak cenderung lebih volatil dan lebih sensitif terhadap kondisi ekonomi dibandingkan emas. Karena itu, perak umumnya dianggap memiliki sifat defensif yang kurang konsisten dibandingkan emas.
Mengapa Yen Jepang Dianggap Sebagai Mata Uang Safe Haven?
Yen Jepang sering dianggap sebagai mata uang safe haven karena didukung oleh ekonomi Jepang yang besar, pasar keuangan yang likuid, serta posisi Jepang sebagai negara dengan aset luar negeri yang besar. Saat sentimen pasar berubah menjadi risk-off, permintaan terhadap yen secara historis dapat meningkat. Namun, pergerakan yen tetap dipengaruhi oleh kebijakan Bank of Japan, suku bunga, dan kondisi ekonomi global.
Apa Itu Permintaan Safe Haven?
Permintaan safe haven adalah peningkatan minat investor terhadap aset yang dianggap lebih stabil ketika ketidakpastian pasar meningkat. Kondisi ini sering berkaitan dengan flight to safety dan risk-off sentiment, ketika investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko dan lebih fokus menjaga modal. Permintaan tersebut biasanya meningkat saat terjadi koreksi pasar, risiko resesi, konflik geopolitik, atau tekanan ekonomi lainnya.
Bisakah Aset Safe Haven Kehilangan Nilainya?
Bisa. Aset safe haven tidak menjamin keuntungan atau perlindungan penuh karena sifatnya hanya berupa kecenderungan, bukan kepastian. Emas dapat mengalami koreksi, obligasi pemerintah dapat turun ketika suku bunga naik, dan bahkan aset defensif dapat tertekan saat terjadi krisis likuiditas. Efektivitas suatu aset safe haven sangat bergantung pada jenis guncangan yang terjadi sehingga tidak ada satu aset yang mampu melindungi dari semua kondisi pasar.
PERINGATAN RISIKO: CFD adalah instrumen keuangan kompleks yang memiliki risiko tinggi mengalami kerugian dengan cepat akibat leverage. Anda harus memastikan sepenuhnya memahami risiko yang terlibat dan mempertimbangkan dengan saksama apakah Anda mampu menanggung risiko tinggi kehilangan uang Anda sebelum melakukan trading.
Disclaimer: Informasi ini disediakan hanya untuk tujuan edukasi dan tidak mempertimbangkan tujuan pribadi, kondisi keuangan, atau kebutuhan Anda. Informasi ini bukan merupakan nasihat investasi. Kami menganjurkan Anda untuk mencari nasihat independen apabila diperlukan. Informasi ini tidak disusun sesuai dengan persyaratan hukum yang dirancang untuk mendorong independensi riset investasi. Tidak ada pernyataan atau jaminan yang diberikan atas keakuratan atau kelengkapan informasi apa pun yang terkandung di dalamnya. Materi ini dapat memuat data historis atau kinerja masa lalu dan tidak boleh dijadikan acuan. Selain itu, estimasi, pernyataan berwawasan ke depan (forward-looking statements), dan proyeksi tidak dapat dijamin. Informasi di situs ini serta produk dan layanan yang ditawarkan tidak ditujukan untuk didistribusikan kepada siapa pun di negara atau yurisdiksi mana pun di mana distribusi atau penggunaan tersebut bertentangan dengan hukum atau peraturan setempat.
Referensi
- “Gold Demand Trends: Q4 and Full Year 2025 – World Gold Council” https://www.gold.org/goldhub/research/gold-demand-trends/gold-demand-trends-full-year-2025 Diakses 3 Juli 2026
- “Gold Demand Trends: Full Year 2025 – Central Banks – World Gold Council” https://www.gold.org/goldhub/research/gold-demand-trends/gold-demand-trends-full-year-2025/central-banks Diakses 3 Juli 2026
- “India’s Gold Market and Demand – World Gold Council” https://www.gold.org/about-gold/gold-demand/geographical-diversity/india Diakses 3 Juli 2026
- “India’s higher gold import duty could cut demand by up to 60 tonnes in 2026: WGC – Business Today” https://www.businesstoday.in/latest/economy/story/indias-higher-gold-import-duty-could-cut-demand-by-up-to-60-tonnes-in-2026-wgc-540366-2026-07-01 Diakses 3 Juli 2026


